Wisata Rakyat dan Dikira Bule Asing di Lombok

Ketika traveling, biasanya saya mengeksplor aneka macam destinasi. Tak hanya landscape, tetapi destinasi budaya dan kuliner juga sering saya kunjungi. Tetapi, ada satu jenis destinasi yang saya jarang kunjungi, seperti wisata rakyat. Saya menyebutnya wisata rakyat karena hampir semua kalangan mendatangi destinasi tersebut (bukan hanya photographer, pecinta alam, traveller, atau anak muda kekinian yang aktif di media sosial).

Kali ini, saya diajak oleh teman-teman @lombokJJ mengunjungi Taman Narmada. Siang itu amat panas, apalagi saya dan Mas Fahrul mengendarai sepeda motor. Udara kering menusuk, belum lagi asap kendaraan memperparah kondisi. Tas carrier yang menumpang di pundak semakin menguji kesabaran siang ini.

Usai memarkir, saya segera membawa carrier (karena tak mungkin ditinggal diatas motor) dan memakai topi yang sengaja saya bawa. Mas Fahrul mengantarkan saya kearah loket masuk. Karena Mas Fahrul yang mentraktir saya jalan-jalan hari ini, jadi didepan loket saya hanya asik menunduk sambil main handphone.

Tak lama, Mas Fahrul kembali dan kami masuk kedalam gerbang. Saya yang penasaran akan harga tiket, meminta tiket masuk yang sudah dibeli. Mas Fahrul meraih kantongnya, lalu memberikan karcisnya kepada saya.

“Lho, Mas kok karcisnya gini?” tanya saya.

“Ha? Kenapa apanya?”.

“Ini, turis asing. Mukaku bule emangnya Mas?” jawab saya kebingungan.

“Lho aku baru ngeh Mas serius. Kok turis asing ya?”.

Kami tertawa saat itu, tak pernah menyangka hal itu akan terjadi. Saat itu, memang saya menggunakan topi dan membawa carrier, yang terkesan turis banget. Apalagi, wajah saya tak terlihat kegantengannya akibat asyik bermain handphone. Tapi saya tak kembali ke loket, karena saya pikir ya sudahlah, hitung-hitung menyumbang ke daerah. Mungkin, saya mirip turis Jepang.

Ternyata taman Narmada yang saya datangi merupakan wisata rakyat. Banyak sekali warga Lombok bahkan turis yang datang hari ini. Dan serunya, semua kalangan bisa menikmati tempat ini. Bukan hanya anak muda yang masih kuat trekking ataupun destinasi yang harga tiket masuknya keterlaluan.

Kapan terakhir ketempat kayak gini?

Source : instagram @catatanbackpacker